130 Kamis, 06 November 2014 | 10:32:02

Pemakaman Merupakan Rumah Bagi Setengah Juta Penduduk Mesir

Pemakaman Merupakan Rumah Bagi Setengah Juta Penduduk Mesirnational geographic

Susah untuk membayangkan lokasi yang lebih buruk untuk dihuni daripada el-Arafa. Terbentang sejauh bermil-mil di pinggiran Kairo, kota mati atau “the Citi of Dead”, ialah sebuah pemakaman zaman dahulu yang berubah menjadi sebuah lokasi tempat tinggal. Kota tersebut dihuni oleh setengah juta penduduk Mesir.

Mulai abad ke -17, jeni kuburan di el-Arafa bukanlah sebuah pemakaman yang menggunakan peti mati. Makamnya sendiri cuma “siispan” pada sebuah ruangan yang nampak seperti sebuah rumah, lengkap dengan fasilitas taman dibagian dalamnya. Kelompok yang menghuni di sana kini menerima pasoka air, listrik, bahkan kantor pos dan puskesmas.

Ketika berkunjung ke el-Arafa, Tamara Abdul Haji yang merupakan seorang fotografer, mengambil gambar kompleks pemakaman itu. Ia juga mengabadikan potret kehidupan dengan latar beakang yang tidak umum, yaitu sekelompok penduduk kota dari yang tua hingga ke yang muda.

Para penduduk tersebut berkegiatan selayaknya yang dikerjakan oleh penduduk kota pada umumnya. Anak-anak yang sedang bermain, sementara nampak para wanita lanjut usia yang dari bentuk tubuhnya mewakilkan betapa sulitnya hidup di wilayah el-Arafa.

Tidak sedikit penduduk yang memahami, bahwa diri mereka, meskipun demikian, beruntung dapat bertahan hidup di Kairo. Dengan minimnya jumlah rumah yang memadai disebabkan terus bertambahnya populasi penduduk, kota tersebut menawarkan pilihan lain bagi penduduk yang berpenghasilan rendah untuk bermukim di el-Arafa.

Mengenai keseimbangan kota, yaitu ruang, cahaya, dan lapangan, bahkan untuk perumahan menengah di Kairo, tengah mengalami penyusutan drastis, terutama untuk wilayah kumuh, seperti el-Arafa.

Pastinya, berbagi rumah dengan mayat, bukanlah hal yang mudah. Pada saat beberapa penduduk el-Arafa menyatakan rasa syukur tinggal berdampingan dengan nenek leluhur merka, sebagai gambaran dari penghormatan warga Mesir kepada orang-orang yang telah meninggal, sebagian penduduk lainnya merasa diperlakukan bagai “sampah” oleh sekelompok orang di luar el-Arafa.

“Bekas tunangan kakak saya, menyudahi hubungan mereka ketika mengetahui dimana kami bermukim,” ucap Khaloud (20), seorang mahasiswa jurusan bisnis.

Kenyataannya, kesulitan itu tidak berkahir disitu. Lingkungan el-Arafa juga berbahaya, tingkat kriminalitas terus naik. Pada konteks ini, lumrah apabila kriminal merebak, sebab jendela-jendela pada rumah di el-Arafa hanya dilindungi oleh pakian penduduk.

“Saya tidak takut pada kematian, justru saya takut akan kehidupan,” ucap Fatma, yang merupakan ibu dari tiga anak yang menetap di salah satu wilayah makam.

Sumber : kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita