139 Senin, 29 September 2014 | 12:03:30

Australia Berencana Akan Batasi KPR

Australia Berencana Akan Batasi KPRbusinessweek

RBA yang merupakan Bank Sentral Australia, berencana akan menerbitkan kebijakan yang dapat membatasi pinjaman beresiko bagi para investor bidang perumahan, di Indonesia kita mengenalnya dengan sebutan Kredit Pembelian Rumah atau KPR.

Dalam laporan penelitian stabilitas finansial tengah tahun, RBA mengultimatum bahwa ada banyak investor sektor perumahan yang menjelajahi pasar jika dibandingkan dengan jumlah yang dapat dijamin oleh permintaan sewa.

“Lalu, komposisi pasar perumahan dan kredit rumah atau KPR menjadi tidak seimbang. Nominal pinjaman pada investor tidak seimbang dengan proporsi rumah yanga direntalkan dalam persediaan perumahan,” RBA menerangkan.

Kini ada lebih dari 40 persen dari total pinjaman baru di tingkat nasional ialah pinjaman investor. Nominal tersebut lebih banyak lagi di lokasi-lokasi investasi yang disukai di Melbourne dan Sydney.

Di saat bersamaan, proporsi pinjaman yang diterbitkan ke pembeli rumah pertama malah berada dalam posisi yang terendah. Pertumbuhan kredit bagi pemilik sekaligus pihak yang menghuni rumah pun cenderung lesu.

RBA mengkhawatirkan akan ada banyak investor yang merambah ke pasar, hanya karena menfasir bahwa harga rumah akan terus meningkat, dan bukan berdasarkan prediksi jumlah pembayaran sewa yang akan mereka peroleh.

Tidak hanya itu, pemerintah mengkhawatirkan spekulatif tambahan seperti itu akan menaikkan siklus harga properti,  dan berikutnya akan meningkatkan potensi anjloknya harga.

Standar pemberian pinjaman dari bank terlihat tidak menurun, tetapi RBA pun mempertanyakan hal tersebut masih sesuai atau tidak.

“Satu pertanyaan penting untuk kemantapan finansial dan makroekonomi  ialah, apakah praktek peminjaman di sektor industri perbankan cukup kuno dalam menghadapi kombinasi suku bunga yang rendah, harga rumah yang tumbuh pesat, serta tingkat hutang rumah tangga yang lebih tinggi jika dibandingkan masa-masa sebelumnya.”

RBA pun telah membahas ini dengan APRA selaku badan pengawas perbankan Australia, dan juga membahas dengan sejumlah badan regulator lain.

APRA telah memohon kepada bank untuk membatasi peminjaman dengan Loan to Value Ratios atau rasio pinjaman nilai, dan memakai standar konservatif sehubungan penilaian property, serta terkait tes untuk menilai daya mampu peminjam dengan suku bunga yang lebih tinggi.

Di negara lainnya, seperti Inggris Raya dan Selandia Baru, diberlakukan limit-limit untuk jenis pinjaman tertentu. Salah satu pinjaman yang dinilai beresiko ialah interest-only loan, yaitu dimana peminjam cuma membayar bunga pinjaman saja hingga masa tertentu, setelah itu baru mencicil nilai pinjaman awalnya.

KPR atau pinjaman seperti itu, umumnya lebih disukai mereka yang membeli properti dengan maksud sebagai investasi.

Sumber : radio australia

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita