228 Kamis, 25 September 2014 | 18:16:37

Kota Hantu Tianjin Eco City Mencari Penghuni

Kota Hantu Tianjin Eco City Mencari Penghunithe guardian

Program migrasi kota yang di selenggarakan pemerintah China rupanya tidak berjalan sempurna. Ratusan kota baru yang dikembangkan untuk ditinggali oleh 100 juta orang desa malah berubah menjadi kota hantu

Pemerintah China mulai mendukung pembangunan “eco-city” sejak pertengahan dekade ini. Semenjak itu, ratusan kota anyar tumbuh di seluruh negeri. Mirisnya, hal tersebut tidak diiringi konsep menyeluruh dan terpadu semacam komit, kepada standar arsitektur hijau ketat. Konsep kota masih belum jelas dan bersifat percobaan dengan perencanaan kota progresif dan terlepas dari jaringan infrastruktur transportasi.

Kota-kota tersebut kosong tanpa penghuni, dan memancing bencana lingkungan, serta di gerbang krisis properti (bubble). Bagaimana tidak, sebab sangat sulit untuk menjangkau kota-kota baru tersebut. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya transportasi umum. Tidak hanya itu, lahan kota juga diacuhkan kosong dan berdebu sebab proses konstruksi masih berjalan.

Salah satu kota yang dimaksud adalah Tianjin Eco City. Lokasi baru ini merupakan hasil kerjasama pemerintah China dan Singapura. Tianjin Eco City diperkirakan memakan dana pembangunan kurang lebih sebesar 24 miliar poundsterling atau setara dengan Rp 470,6 triliun.

Dengan luas 30 kilometer persegi, Tianjin Eco City didesain sebagai model pengembangan yang berkelanjutan. Bangunan-bangunannya dibangun sesuai standar bangunan hijau. Ketika konstruksi kota baru ini rampung pada tahun 2020, dapat menampung 350.000 orang. Tahap awal dengan luas 3 kilometer persegi, dirancang dapat mewadahi 6.000 penduduk tetap.

Seorang penulis buku tentang eco city dan juga arsitek yang bermukim di Shanghai, Neville Mars berpendapat, Tianjin mempunyai kelebihan karena lokasinya yang berdekatan dengan metropolitan besar serta perdagangan dan hubungan bisnis.

Selain Tianjin, banyak proyek ambisius serupa lainnya, seperti Caofeidian di provinsi Hebei, yang macet di tengah jalan. Persoalannya adalah “model kota baru” tidak didesain secara organik, ucap Mras.

Tidak hanya itu, beberapa ahli berpendapat bahwa jalur pejalan kaki serta bangunan hijau bersertifikat bukan jalan keluar. “Masyarakat Tiongkok memanfaatkan banyak batu bara untuk transportasi, sebab itu sangat murah,” ucap Direktur Pelaksana Brookings-Tsinghua Center, Tao Ran, yang memantau kebijakan publik.

Sekarang ini, Tianjin eco-city berkembang lebih bagai sebuah simulacrum. Banyak bangunan berstandar hijau dan ramah lingkungan, nampak dari pemakaian panel surya sebagai sumber tenaga, namun sebagian besar tidak di fungsikan.

Walaupun pengembang mengakui ada 1.000 lebih perusahaan telah teregister dan akan berbisnis di kota ini, tetapi banyak etalase pertokoan yang kosong. Kondisi serupa juga terjadi seperti pada warung makan dan kedai kopi yang dikunci pemiliknya, sebab tidak ada konsumen yang datang.

Xu Wenjiao, Manajer Perkotaan mengutarakan, saat ini mereka memerlukan banyak orang untuk mendiami properti disini. Demi menarik masyarakat berkunjung ke Tianjin, Wenjiao menawarkan biaya pendidikan kuliah sebesar Rp 748.000 saja per bulannya.

“Semua usaha telah diperbuat agar orang berminat pindah ke Tianjin. Investor ingin asetnya ada yang menyewa dan mendiami,” ucapnya.

Berhasilkah usaha xu? Butuh waktu yang tidak sebentar untuk merubah agar Tianjin tidak menjadi “kota hantu” semata.

Sumber : kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita