193 Jum'at, 15 Agustus 2014 | 14:32:57

Praktik Green Building Butuh Komitmen dan Keseriusan

Praktik Green Building  Butuh Komitmen dan Keseriusanasiagreenbuildings

Praktik green building perlu keseriusan dan komitmen kuat dari pemerintah. Contohnya, Singapura berhasil merealisasikan green building dengan jalan yang cukup panjang. Negara ini membuat Building and Construction Authority atau BCA, sebuah lembaga di bawah Kementerian Pembangunan Nasional Singapura. BCA berfungsi mengatur dan mengembangkan konstruksi bangunan dengan misi membuat bangunan aman, berkualitas tinggi, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

“Sejak tahun 1980-2005 kita sudah mulai konservasi energi, tahun 2006 kita buat master plan pertama green building dan pemerintah menawarkan insentif 20 juta dollar AS selain 50 juta dollar AS dana untuk R&D, serta training intensif untuk industri,” ungkap Jeffery Neng Kwei Sung yang merupakan Centre Director BCA, Singapura, pada housing-estate.com di Jakarta, awal minggu ini.

Tidak hanya sampai di situ, tahun 2009 lalu BCA merilis master plan green building kedua.  Pemerintah Singapura memberi insentif untuk gedung yang memakai standar energi sangat tinggi dan menawarkan biaya sebesar 100 juta dollar AS untuk bonus bagi pemilik green building. Green Building Rating System yang diluncurkan BCA kini telah diikuti oleh 15 negara dengan lebih dari 70 kota.

“Di Singapura sendiri ada lebih dari 2.100 gedung yang sudah bersertifikat Green Mark Building, setara dengan 62 juta m2. Kelihatannya besar, tapi ini baru 25 persen dari seluruh gedung di Singapura. Targetnya, hingga tahun 2030 sebanyak 80 persen gedung di Singapura sudah green,” tambahnya.

Gedung EDITT (Ecological Design in The Tropics) merupakan salah satu gedung ramah lingkungan di Singapura. Gedung desain TR Hamzah & Yeang yang memiliki 26 lantai ini dibangun dengan bahan yang dapat didaur ulang. Selain itu di lokasi gedung ini akan dipasang panel surya yang bisa memenuhi 40 persen kebutuhan listrik di gedung itu.

Konsep green building ini akan menjadi isu krusial nantinya mengingat tahun 2050 mendatang, sebesar 70 persen populasi dunia diproyeksikan akan tinggal di perkotaan. Gedung-gedung di perkotaan itu memakai 40 persen energi dan air secara global selain menghabiskan sepertiga sumber daya bumi. “Penerapan green building menaikkan biaya mulai 0-5 persen, tapi kita akan memperoleh efisiensi biaya setelah 3-6 tahun,” jelas Jeffrey.

 

 

Sumber: housing estate

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita