122 Sabtu, 09 Agustus 2014 | 08:37:29

Sektor Properti Tiongkok Kian Melemah

Sektor Properti Tiongkok Kian MelemahBloomberg

Seakan tidak peduli dengan kondisi properti yang kian melemah, para pengembang di Tiongkok tetap tidak ingin merugi dengan menurunkan harga jual propertinya. Melemahnya sektor properti di Tiongkok ini disebabkan oleh sektor perekonomian yang melambat, inflasi yang melambung tinggi, harga yang kian mahal, dan tidak cukupnya daya beli konsumen.

Karena para pengembang tetap pada tekadnya untuk tidak menurunkan harga jual properti mereka, jumlah properti yang kosong karena tidak kunjung terjual pun mulai menumpuk, dan hal ini dapat memicu turut melemahnya sektor konstruksi yang memang sudah mulai surut. Padahal, pemerintah telah berusaha untuk membangun kembali industri properti yang sehat dengan mengubah aturan-aturan yang kaku menjadi lebih fleksibel.

Menurut data dari Shenzhen World Union Properties Consultancy Inc, jumlah hunian baru yang belum kunjung terjual di 20 kota-kota besar di Tiongkok melambung hingga melampaui angka penjualan rata-rata nasional dalam periode 23 bulan terakhir hingga bulan Juni lalu.  Kondisi ini juga didukung oleh data dari pemerintah yang juga memperlihatkan bahwa ada peningkatan sebesar 25 persen pada jumlah luas lantai apartemen baru yang belum terjual secara nasional dihitung per 30 Juni lalu. Hasil analisa dari Moody’s Investors Service juga mengatakan bahwa ketimbang menambah pasokan hunian baru, pengembang akan menghabiskan stok yang ada.

Everyday Network Co, sebuah perusahaan konsultan properti mengungkapkan bahwa di Nanjing, Tiongkok Timur, ada sembilan proyek perumahan yang ditunda pemasarannya, dari yang seharusnya paruh pertama tahun ini, menjadi akhir tahun. Sementara itu, Centaline Group, perushaan induk broker properti terbesar di Tiongkong mengatakan bahwa dihitung per Juli tahun ini, jumlah rumah yang dipasarkan di 21 kota utama turun hingga 25 persen dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya.

"Lambat laun, unit-unit apartemen yang siap huni tersebut juga akan dipasarkan, dan para calon pembeli pasti akan tetap berharap harga dapat diturunkan,” ujar Hua Changchun, pakar ekonom dari Nomura Holdings Inc, yang berasal dari Hongkong. Hua juga menambahkan bahwa melemahnya sektor properti di Tiongkok akan tetap terjadi meskipun pemerintah telah mengubah kebijakan yang ada.

Hal ini didukung oleh hasil survey dari Biro statistik Tiongkok pada bulan Juni lalu yang menyatakan bahwa harga jual properti di hamper 80 persen dari total 77 kota yang disurvey merosot dibandingkan dengan harga jual di bulan sebeloumnya. Secara nasional, harga rumah di semester pertama tahun ini juga telah merosot hingga 9,2 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya. Padahal, peningkatan harga sebesar 26,6 persen masih terjadi di tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh penundaan penjualan yang dilakukan oleh pengembang, serta tidak adanya diskon yang diberikan, penghapusan uang muka, atau jaminan pembelian kembali.

Donald Yu, seorang analis dari Guatai Junan Securities Co asal Shenzhen menyatakan bahwa pengembang menunda penjualan karena prospek bisnis yang belum membaik, kredit yang masih ketat, dan permintaan pasar yang melemah. “Jika pada paruh kedua tahun ini pasokannya ditambah, secara alami harga pasaran akan mengalami penurunan,” imbuhnya.

 

Sumber: Bloomberg

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Terkini

Selengkapnya

Referensi

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita