270 Senin, 23 Juni 2014 | 10:23:31

Biaya Hidup Termahal di Caracas

Biaya Hidup Termahal di CaracasGondola Project

Pekan lalu, hasil survei biaya hidup di sejumlah negara diumumkan oleh ECA International. Survei yang dilaksanakan pada bulan Maret dan September setiap tahunnya itu menggunakan biaya jasa dan harga barang kebutuhan harian di lokasi survei sebagai data survei mereka. Misalnya harga buah, daging, pakaian, produk berbahan susu, barang elektronik, biaya makan di luar rumah, hingga barang-barang elektronik.

Kebutuhan lainnya, seperti sewa tempat tinggal, pembelian hunian, tarif listrik, gas, air, biaya pembelian mobil, dan biaya pendidikan tidak turut dimasukkan ke dalam survei ini. Walaupun informasi tersebut tergolong penting, namun biasanya pembayaran biaya-biaya tersebut dibantu oleh perusahaan untuk pegawai-pegawai ekspatriatnya. Tujuan survei ini sendiri adalah untuk membantu perusahaan multinasional untuk menghitung biaya hidup tahunan karyawan-karyawannya yang akan dikirim keluar negeri.

Berbeda dengan hasil survei tahun 2012 yang dilansir di tahun 2013 kemarin, kota dengan biaya hidup termahal menurut hasil survei tahun 2014 adalah Caracas, Venezuela. Menempati posisi kedua dan ketiga adalah Oslo, Norwegiam, dan Luanda, Angola.

Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan yang sangat besar di Caracas, karena di hasil survei tahun lalu, Ibukota Venezuela tersebut masih menempati posisi 32. Di periode yang sama, Oslo menempati posisi pertama dan Luanda di posisi kedua. Menurut ECA, biaya hidup di Caracas tahun ini 40% lebih tinggi dari biaya hidup di Oslo.

Kondisi yang berbeda juga dialami oleh kota Stavanger, Norwegia, yang di tahun 2013 menempati posisi ke 3, kini hanya dapat berada di posisi ke 6, dibawah Zurich dan Geneva. Padahal sebelumnya, dua Kota tersebut hanya menempati positi 7 dan 8. Kota-kota yang turut masuk ke 10 tertinggi peringkat kota dengan biaya hidup termahal ialah Bern dan Bassel, Norwegia dan Copenhage, Denmark. 10 peringkat teratas ini dimoniasi oleh kota-kota asal benua Eropa. Satu-satunya yang terletak di luar benua itu adalah Juba. Pada tahun 2013, kota di Sudan Selatan ini berada di posisi ke 4.

Inflasi tahunan di Venezuela yang mencapai lebih dari 80% itu dikaitkan oleh penempatan Caracas pada posisi nomer 1 tahun ini. Saat survei, antisipasi devaluasi atas bolivar (mata uang setempat) telah dilakukan, sehingga bisa saja biaya hidup di kota ini akan turun kembali tahun depan.

Sementara itu, di benua Amerika, kota Manhattan menempati posisi kedua, namun secara global hanya berada di posisi ke 39. Vancouver, Kanada mengalami penurunan yang cukup drastis dari tahun lalu di posisi 50, kini berada di posisi 88. Ini diakibatkan oleh melemahnya nilai dolar Kanada terhadap dolar AS.

Kota lain di Amerika yang biaya hidupnya juga menurun adalah Rio de Janeiro dan Sao Paulo. Meskipun menjadi kota penyelenggara Piala Dunia 2014, kota ini masing-masing berada di peringkat ke 123 dan 130. Padahal, tahun 2013 lalu mereka masih ada di bilangan 100 besar, yaitu Rio di peringkat 51 dan Sao Paulo di peringkat 64. Penyebabnya kurang lebih sama dengan Kanada, yaitu karena mata uangnya (real) nilainya melemah terhadap dolar AS selama 12 bulan terakhir.

Untuk benua Eropa, secara global Moskow juga mengalami penurunan yang drastic dari posisi 55 ke 22. Sebaliknya, London naik dari posisi 86 ke 46 karena nilai tukar poundsterling yang juga naik terhadap dolar AS. Posisi ini merupakan posisi tertinggi untuk London secara global sejak survei dimulai tahun 2008 lalu. Naiknya posisi sejumlah kota di benua Eropa juag dipengaruhi dengan menguatnya nilai mata uang Euro.

Untuk benua Asia, Tokyo, yang secara global menempati posisi ke 11, adalah kota termahal di seluruh Asia Pasifik. Kenaikan pajak penjualan dari 5% menjadi 8% dianggap menjadi faktor terbesar. Biarpun begitu, mata uang kota ini justru turun dari posisi lama nya yang tahun-tahun lalu ada di sepuluh besar.

Untuk Shanghai dan Beijing, survei terakhir menunjukkan mereka ada di posisi ke 18 dan 20. Tidak banyak kenaikan posisi jika dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya. Walaupun mata uangnya melemah terhadap euro dan poundsterling, nilai nya yang menguat pada dolar AS membuat harga Tiongkok masih melambung tinggi.

Dua kota yang menarik adalah Dubai dan Abu Dhabi. Walaupun kedua kota di UEA ini memiliki hunian dengan nilai jutaan dollar AS, ternyata biaya hidup disini tidak terlalu mahal. Keduannya masing-masing menempati peringkat 165 dan 177 dalam ranking global. Padahal, menurut survei, harga barang-barang di kota tersebut telah meningkat 3 kali lipat disbanding tahun lalu.

 

Sumber: ECA International

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita