127 Kamis, 03 April 2014 | 09:14:28

'Wait and See' di India

'Wait and See' di India

Seperti halnya Indonesia, konsumen properti di India saat ini juga tengah menghadapi kondisi pasar yang pasif, menyusul pemilihan umum negara itu yang dimulai pekan depan.

"Ada harapan di antara para pengembang untuk skenario pasca jajak pendapat yang positif," kata Ramesh Nair, Chief Operating Officer Jones Lang LaSalle (JLL) India, Rabu (2/4/2014).

"Sementara semua mata tertuju pada pemilihan umum, sektor real estate menahan napas untuk menunggu. Optimisme ini diharapkan dapat meningkatkan transaksi dan mengangkat sentimen pembelian rumah," tambahnya.

Seperti diberitakan, pemilihan umum India dimulai Senin depan dan berjalan selama lebih dari satu bulan. Hasil pemilu tersebut akan diumumkan pada 16 Mei mendatang.

Permintaan properti residensial di India tengah mengalami penurunan sejak tahun lalu dan saat ini tengah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi dan suku bunga yang tinggi. Para analis India mengungkapkan, baru-baru ini para pembeli properti sedang dalam posisi wait and see untuk melihat hasil pemilu sebelum melakukan pembelian rumah.

"Kebijakan ekonomi dan lapangan kerja akan menjadi pendorong utama pertumbuhan di sektor real estate untuk lima tahun ke depan," kata Nair.

Nair mengatakan, 2012 dan 2013 bukanlah tahun-tahun terbaik untuk pasar real estate India, dan perlambatan berdampak pada semua segmen, kecuali dalam beberapa kantong wilayah tertentu. Selama beberapa kuartal terakhir, lanjut Nair, ketidakpastian politik telah secara signifikan melemahkan kepercayaan pembeli di berbagai daerah.

"Kemenangan menentukan bagi salah satu aliansi akan mengangkat sentimen pembelian rumah dan pasar properti akan melihat kembalinya permintaan pembeli akibat pulihnya kepercayaan. Pasca pemilu, jika jalan menuju pemulihan tanpa kendala, pembeli properti mungkin sangat baik kembali memasuki pasar dalam jumlah yang juga baik," ujarnya.

Mudassir Zaidi, Direktur Nasional Lembaga Perumahan Knight Frank India, mengatakan bahwa jika pemerintah Indoa secara politik stabil dan kuat, maka kondisi properti diharapkan mulai meningkat lagi.

"Setelah pemilihan umum, kegiatan kembali cepat dan kesimpulan dari pemilu akan membantu meningkatkan permintaan untuk perumahan," katanya.

Sementara itu, di Indonesia pasar properti juga masih dibayangi beberapa permasalahan. Selain harga material yang terus merangkak naik, pesta demokrasi yang dalam beberapa bulan lagi akan dimulai turut menjadi faktor yang berpengaruh.

"Pemilihan umum atau pemilu di tahun 2014 ini membuat terjadinya perlambatan bagi sektor properti," kata Ferry Salanto, Associate Director Colliers Indonesia , Selasa (7/1/2014).

Saat pemilu, lanjut Ferry, akan banyak investor yang melakukan pembelian. Pasalnya, harga properti saat pemilu lebih kompetitif. Selanjutnya, ketika pemilu berakhir, pengembang dipastikan kembali seperti sedia kala.

"Pengembang baru akan jor-joran membangun setelah pemilu dan yakin situasi ekonomi membaik," ujarnya lagi.

Pasar properti Indonesia juga akan mengalami short term market. Dalam hal ini, banyak developer yang melakukan penundaan terhadap proyeknya.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita