118 Kamis, 06 Maret 2014 | 10:41:40

Beli Barang Antik Curian, Galeri Nasional Australia Rugi Jutaan Dolar

Beli Barang Antik Curian, Galeri Nasional Australia Rugi Jutaan Dolar

Direktur Galeri Nasional Australia (NGA) menolak mengembalikan benda seni kuno bernilai jutaan dolar yang mereka beli dari India kecuali sudah ada bukti yang kuat kalau itu benda seni itu memang barang curian. Ron Radford mengakui kalau galeri mereka kemungkinan memang ditipu oleh makelar benda-benda seni berharga dari New York, Subhash Kapoor yang oleh Interpol dinyatakan sebagai penyelundup benda-benda seni antik terbesar di dunia.

Kapoor akan segera diadili di Chennai karena diduga menjalankan bisnis penyelundupan benda seni antik/kuno internasional senilai $100.000.000.

Gara-gara kasus ini, Galeri Nasional Australia merugi AUD$11 juta, namun Redford mengaku dia sudah melakukan uji kelayakan dalam proses pembelian barang artefak Hindu tersebut dan ia tidak merasa harus mengundurkan diri dari jabatannya.

"Tidak, tidak sama sekali, kita telah melakukan dan melalui proses  yang semestinya kita lakukan. Dan saya juga sudah melakukan hal yang harus saya lakukan,” katanya.

Radford mengatakan Galeri Nasional Australia telah melakukan segala hal dalam memproses pembelian benda seni termahal yang pernah dilakukan lembaga tersebut pada tahun 2008, yaitu sebuah patung perunggu Chola yakni Dewa Shiwa yang sedang menari senilai AUD$5,1juta.

Radford dan Galeri Nasional Australia langsung menuai sorotan karena praktek pembelian benda seni yang dianggap sangat naf.

Jurnalis Amerika, Jason Felch, yang sudah lama menyelidiki barang-barang antik curian mengatakan uji kelayakan yang dilakukan oleh Galeri Nasional Australia dan galeri seni lainnya di dunia yang terjebak dalam perangkap perdagangan barang anti curian dari Kapoor sangat mengejutkan.

"Mereka hampir tidak melakukan apa pun untuk memeriksa keaslian informasi yang disediakan Kapoor kepada mereka,” katanya.

"Mereka sama sekali tidak menghubungi mantan pemilik benda seni itu untuk mengkonfirmasi bahwa benda itu dulunya memang punya mereka.

"Tidak ada keraguan dalam pikiran saya bahwa reputasi Galeri Nasional Australia sangat buruk karena berurusan dengan Subhash Kapoor."

Radford mengatakan staffnya telah berulang kali memeriksa apakah alamat yang disediakan oleh Kapoor kepada mereka asli.

"Saya yakin mereka mengecek di Google Earth untuk melihat apakah itu alamat yang dibuat-buat dan orang yang disebutkan memang benar-benar ada,” katanya.

Galeri Nasional Australia saat ini tengah menggugat Kapoor di New York dan Radford sangat yakin jika Kappor dinyatakan bersalah, maka lembaganya akan yang menjadi pertama kali dihubungi mengenai aset patung perunggu Chola tersebut.

Namun Felch yakin peluang Galeri Nasional Australia untuk mendapatkan kembali uang mereka dari kapoor sangat kecil.

"Saya yakin Kapoor akan meringkuk dipenjara selama bertahun-tahun, awalnya mungkin di penjara India lalu mungkin ia juga harus dipenjara di Amerika dan mungkin juga dinegara lain,” tambahnya.

"Dan Galeri Nasional Australia baru dapat untuk mengajukan gugatan atas transaksi pembelian benda seni itu setelah seluruh proses hukum itu selesai,” katanya.

Koleksi benda seni India itu dibeli dengan anggaran uang dari para pembayar pajak dan juga sumbangan dari sejumlah tokoh Australia termasuk diantaranya Ros Packer dan and the late artist Margaret Olley.

Radford ketika itu yakin warga Australia akan bangga memiliki koleksi patung indah dari India.

Sejak kontroversi ini, Galeri Seni Australia memperketat prosedur pembelian barang seni mereka.

Lembaga itu tidak lagi hanya mengandalkan keabsahan dokumen tapi juga mempersyaratkan sebuah benda seni yang akan dibeli harus sudah lebih dahulu di pamerankan ke publik sebelum tahun 1970, ketika UNESCO meratifikasi perjanjian internasional tentang larangan memindahkan barang seni kuno dari negara asal mereka.(nwk/nwk)

Sumber : Detik

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita