20 Jum'at, 15 November 2013 | 17:34:17

Pemilik Kantor \"Superman\" Gugat Bank of America

Pemilik Kantor \

Penggemar serial televisi dan layar lebar "Superman" pasti mafhum dengan pencakar langit satu ini, "The Providence". Ya gedung jangkung yang berlokasi di Rhode Island, Amerika Serikat ini mirip dengan kantor Daily Planet, harian tempat Clark Kent, sang "Superman", bekerja.

Sayangnya, nasib "The Providence" tak semanis "Superman". Gedung yang ditinggalkan penyewa terakhirnya, Bank of America, tersebut dibiarkan kosong, telantar dan tidak laik sewa. Padahal, sang pemilik gedung, High Rock Development berhasrat untuk mengonversinya menjadi apartemen sewa.

Karena dianggap tidak mampu mengelola gedung dengan benar, High Rock pun menyeret Bank of America ke pengadilan. Mereka menggugat bank tersebut senilai 23 juta dollar AS (Rp 266,5 miliar) atas kerusakan dan kekosongan menara berlanggam art deco tersebut.

Meski telah sampai di pengadilan, namun Bank of America telah membantah tuduhan itu dan justru malah melakukan gugatan balik.

The Providence sebelumnya dikenal sebagai Gedung Bank Nasional Industri dan merupakan salah satu bangunan paling khas di negara bagian ini yang beroperasi pada 1927. The New York Times baru-baru ini menggambarkan The Providence sebagai contoh paling indah arsitektur Art Deco  dengan dekorasi geometris dan fasad yang menyempit hingga ke lentera paling atas.

High Rock membeli menara setinggi 26 lantai ini seharga 33,2 juta dollar AS (Rp 384,7 miliar) pada 2008 silam. Pengembang yang berbasis di Massachusetts tersebut akan mengubah sebagian besar ruang menjadi 208 unit apartemen sewa.  Di lantai bawah akan digunakan untuk ritel dan kantor.

Konversi tersebut terpaksa dilakukan, mengingat untuk ukuran perkantoran kelas menengah, tingkat kekosongan sebesar 19 persen sangat tidak masuk akal. Pengembang pasti merugi.

"Kami tahu bahwa konversi gedung menjadi hunian adalah penggunaan tertinggi dan terbaik," ujar juru bicara High Rock.

Mereka berencana mengatur subsidi publik untuk mendanai aksi konversi. Dibutuhkan dana publik setidaknya 75 juta dollar AS (Rp 869 miliar) agar konversi berjalan lancar.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita