85 Jum'at, 25 Oktober 2013 | 09:14:15

"Backlog" Properti New South Wales 50.000 Unit per Tahun

Defisit rumah (backlog) di New South Wales (NSW), Australia, menembus angka 50.000 unit per tahunnya. CEO Crown International Holdings Group (Crown Group), Iwan Sunito mengatakan, jumlah tersebut sama atau ekuivalen dengan Rp400 triliun.

"50.000 unit itu baik apartemen maupun rumah. Belum lagi yang masuk tiap tahunnya. Kita dan pengembang lainnya di sini hanya bisa isi 20.000 unit per tahunnya," katanya, seusai menjadi panelis di Urban Development Institute of Australia (UDIA) NSW Annual State Conference, yang berlangsung Kamis (23/10), di The Ivy Room, Sydney.

Dikatakan Iwan, tanah di Australia masih jauh lebih murah dibandingkan Singapura dan Hong Kong. Di Sydney, harga tanah per meter persegi hanya AUS$ 15.000. Sedangkan di Orchard Road, Singapura, mencapai AUS$ 35.000, dan AUS$ 50.000 untuk Hong Kong.

Crown Group sebagai pengembang dengan pertumbuhan tercepat di Australia, selain terus menggarap potensi apartemen di Sydney, menurut Iwan, ke depannya juga akan melebarkan sayapnya ke kota lain di Negeri Kangguru, yakni Melbourne dan Brisbane.

Sementara, CEO UDIA, Stephen Albin mengatakan, dengan backlog sebesar 50.000 unit per tahun, permintaan akan properti di negara bagian NSW terbilang sangat tinggi. Properti di sini menurutnya juga bisa menghasilkan keuntungan investasi 20% per tahunnya.

"Kondisi ini membuat pasar properti di Sydney lebih potensial untuk investasi dibandingkan daerah lainnya," ucapnya.

Menurut Albin, dalam tiga tahun terakhir, semakin banyak investor asing yang membeli properti di Sydney . Bahkan setiap tahun, ada kenaikan jumlah investor asing hingga 15%. Ia memperkirakan, hal ini akan terus berlanjut hingga lima tahun mendatang.

"Saya yakin, investasi asing di properti akan terus mengalami peningkatan, seiring dengan banyaknya proyek infrastruktur yang akan dibangun pemerintah di Sydney," katanya pula.

Pemerintah, sambung Albin, juga memudahkan investor asing untuk masuk. Namun, bukan berarti mereka mengabaikan perlindungan konsumen.

Secara terpisah, anggota parlemen Negara Bagian NSW, John Sidoti, di Gedung Parlemen NSW, mengungkapkan bahwa pemerintahnya memiliki ambisi besar untuk menjadikan NSW sebagai negara bagian yang menjadi kekuatan ekonomi dunia. Untuk itu, diperlukan infrastuktur yang memadai dan fasilitas publik yang menunjang kegiatan ekonomi.

"Komitmen kami adalah melakukan revitalisasi dam menjadikan NSW sebagai kekuatan ekonomi dunia," tegasnya.

Untuk investasi, Sidoti menambahkan, pemerintah Australia sangat memudahkan investor asing untuk masuk. Dengan aturan yang mempermudah, diharapkan investasi asing bisa turut memberikan kontribusi terhadap pembangunan infrastruktur di Sydney.

Indonesia, dikatakan Iwan pula, juga penting untuk memproteksi konsumennya. Pasalnya, minat asing untuk berinvestasi di Indonesia banyak, namun banyak juga hambatannya.

"Indonesia penting untuk memproteksi konsumennya. Untuk itu, pemerintah perlu membenahi regulasinya. Investasi dari luar ke Indonesia besar sekali," imbuhnya.

Status Tanah
Crown Group sendiri, diakui Iwan, juga sangat tertarik untuk mendirikan propertinya di Indonesia. Bahkan sertifikat hak guna bangunan (HGB) yang berlaku di negara asalnya itu tak menghalangi minatnya. Namun menurutnya, ada satu yang menjadi kendala, yakni perihal status hukum dari kepemilikan tanahnya.

Iwan mengatakan, sudah banyak pengembang maupun yang bukan, datang atau menelepon dirinya untuk menawarkan kerja sama. "Banyak tawaran masuk. Indonesia buat kami itu sangat besar potensinya. Tapi, ada tantangan, yakni kepemilikan tanah yang tidak jelas. Untuk itu, saya harus perhatikan secara benar," ungkapnya.

Untuk membuktikan keseriusan Crown Group membangun properti di Indonesia, pihaknya menurut Iwan, sudah mengalokasikan dana US$20-US$30 juta untuk modal awal dari pengerjaan proyek Rp1 triliun. Iwan menuturkan, lima hingga enam tahun ke depan, kota Sydney sudah terlalu kecil untuk dikembangkan oleh proyek yang akan digarap.

"Indonesia negara menjanjikan. Dan sudah seperti masyarakat luar negeri, mereka lebih suka tinggal di apartemen. Jakarta mengikuti tren yang sama, karena macet," ungkapnya.

Iwan pun mengatakan, untuk memuluskan ekspansinya di Indonesia, pihaknya tengah membuka peluang untuk joint venture dengan pengembang Indonesia. Di mana dalam memilih rekan kerja, Crown menyatakan akan berdasarkan prinsip SPACE (sustain, prestige, architecture, commercial and experience).

"Crown tidak pernah kerjain proyek di bawah Rp1 triliun di Sydney. Kita mau minimal Rp1 triliun untuk proyeknya. Tapi, bukan berarti harus kerja sama dengan grup yang besar. Asal proyek yang besar, kami siap," katanya.

Sumber : Berita Satu

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita