156 Selasa, 22 Oktober 2013 | 10:29:32

Di Balik Gedung Opera Sidney, Landmark Negeri Kangguru

Di Balik Gedung Opera Sidney, Landmark Negeri Kangguru

Dua puluh Oktober adalah hari ulang tahun ke-40 tahun Opera House, di Sidney, Australia. Bangunan itu merupakan ikon dari Negeri Kangguru. Gedung yang dibuka sejak tahun 1973 ini, telah didatangi lebih dari 65 juta pengunjung. Sekira 80 ribu peristiwa penting juga pernah terjadi di sini. Untuk merayakan ulang tahun Opera House kali ini, akan  dimeriahkan dengan berbagai acara yang dilaksanakan dari pertengahan hingga akhir Oktober.

Sejumlah acara telah dipersiapkan, seperti konser, tur, pameran dan bertabur kue. Opera House merupakan sebuah karya yang mencerminkan ambisi rakyat Australia.

Sejarah dibalik diciptakannya Opera HOuse terletak pada kekayaan arsitekturnya. Awalnya, tahun 1956, Pemerintah New South Wales mengadakan kompetisi terbuka untuk mendesain ruang kerja, ruang opera dan konser simfoni, dan ingin menjadikan Sidney sebagai kota yang besar. Pemenang kompetisi itu adalah seorang arsitektur asal Denmark, Jørn Utzon. Dengan sketsanya yang simpel, dia berhasil menarik perhatian salah satu juri, Eero Saarinen.

"Gambar-gambar yang disampaikan melalui desainnya sangat simpel. Namun, kami yakin bahwa ia mampu  menghadirkan konsep sebuah gedung opera yang nantinya akan menjadi salah satu bangunan terbesar di dunia", kata Eero Saarinen, yang dilansir dari archdaily, Senin (21/10/2013).

Pembangunan Opera House ini dimulai pada Maret 1959. Pembangunan tersebut dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pembangunan dasar podium yang menghadap ke Pelabuhan Sidney, pembangunan bagian luar dan konstruksi interior. Agar sempurna, butuh waktu 11 tahun untuk menyelesaikan struktur atapnya yang saat ini menjadi daya tarik gedung ini.

Pada tanggal 28 Februari 1966, terjadi ketegangan antara Pemerintah New South Wales dengan Utzon.  Hal ini dikarenakan  meningkatnya biaya konstruksi yang akan mencapai pada tahap akhir. Akibat ketegangan itu, Utzon pun mengundurkan diri dari proyek ini. Namun kemunduran Utzon mendapat protes dari masyarakat. Masyarakatpun berdemo dengan mengumpulkan 300 tanda tangan menuntut Utzon kembali. Namun pemerintah tetap bersikeras dan menunjuk tiga arsitek asal Australia, Peter Hall,  DS Littlmore dan Lionel Todd, untuk menyelesaikan proyek ini.

Akhirnya, pada bulan Oktober 1973 gedung Opera House selesai. Gedung ini dibuka dan diresmikan oleh Ratu Elizabeth II. Pembangunan gedung ini menganggarkan dana total USD7 juta dolar atau sekitar Rp79 miliar, namun ternyata anggaranya jauh melebihi perkiraan. Total dana yang dihabiskan mencapai USD 102 juta dolar atau sekitar Rp1,1 Triliun.

Pada tahun 2007 Gedung Opera House dinobatkan menjadi salah satu situs warisan dunia. Dan pada tahun 2003 Jørn Utzon dianugrahi penghargaan Pritzker pada lima tahun sebelum kematiannya pada 2008. Namun sejak pengunduran dirinya dari proyek Opera House, dia  tidak pernah kembali lagi ke Australia.

Kemeriahan ulang tahun Opera House yang di mulai pada 20 Oktober ini dibuka dengan berbagai pertunjukan seperti kue dan musik. Berbagai pertunjukan akan terus berlangsung hingga 31 Oktober. (nia)    

Sumber : Okezone

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita