557 Rabu, 06 Mei 2015 | 15:39:29

Properti Grup Bakrie Masih Memiliki Citra Negatif

Properti Grup Bakrie Masih Memiliki Citra Negatifmerdeka

Kinerja Grup Bakrie tak pernah lagi mulus setelah terjadi tragedi Lumpur Lapindo di siduarjo tahun 2006, dan lebih dari itu selalu terjadi penurunan disetiap tahunnya.

Berbagai aset yang dimiliki pun tak luput perpindah tangan ke korporat-korporat besar, dan hal itu sangat berpengaruh terhadap kuantitas aset yang dimiliki Gruo Bakrie yang kini begitu pesat penyusutannya.

Hal ini berpengaruh besar pada sektor properti, produk-produk milik Nirwan D Bakrie yaitu PT Bakrieland Tbk dan anak grupnya yang ditawarkan masih ditanggapi negatif. “Pasar masih alergi, bahkan sebagus apa pun properti yang mereka tawarkan untuk saat ini atau beberapa tahun kedepan, pasti dipandang negatif. Pasar sulit menyerapnya karena sepak terjang Grup Bakrie secara umum,” begitu penjelasan Analis Riset DTZ Indonesia, Vincent Sutrisno mengenai pandangannya terkait aktual bisnis properti Grup Bakrie (29/04/2015)

PT Bakrie Swasakti Utama mengelola seluruh aset Grup Bakrie di Rasuna Epicentrum yang dimana aset meraka sempat mencapai angka 53 hektar, namun kini hanya tersisa beberapa saja. Pengurangan tersebut dimulai dari pembelian 3 hektar lahan di superblock tersebut oleh Grup Sinar Mas melalui PT Bumi Serpong Damai Tbk, dan menyusul pengembang-pengembang lainnya yang membuat Aset Bakrie kini tersingkirkan.

"Sinarmas Land melalui PT BSD Tbk mengeluarkan dana sebesar Rp 868,93 miliar untuk aksi korporasi itu, dengan dana tersebut mereka nantinya akan mendirikan apartemen di lahan Rasuna Epicentrum," Pemaparan Vincent. Tak cukup disitu saja Sinarmas Land yang dipimpin Michael Widjaja kembali mengambil alih Mal Epicentrum Walk dikawasan yang sama pada tahun 2014, hingga mengeluarkan dana kembali sebesar Rp 297 miliar untuk memperoleh aset tersebut.

Tidak mau kalah dengan Sinarmas Land, Grup Tiara Marga Trakindo melalui anak usahanya PT Triyasa Propertindo turut membeli lahan seluas 3 hektar dari wilayah yang sama hingga mengeluarkan dana sebesar Rp 525 miliar. Lahan tersebut nantinya akan dijadikan perkantoran, apartemen, dan kondominuim hotel yang dimulai dengan pembangunan dua menara perkantoran Gran Rubina.

"Bakrie banyak utang, kerap ngemplang pajak, dan terlambat menyelesaikan proyek. Hubungan dengan kontraktor pun tidak baik, sehingga mau tak mau mereka akan dihadapkan pada dua pilihan, vakum atau meneruskan dengan label baru, Bahkan, dengan berlabel baru pun, Grup Bakrie tak sanggup mengembalikan kejayaannya. Dilansir dengan berdirinya The Convergence, proyek perkantoran yang diklaim ramah lingkungan, belum mampu mendulang simpati pasar, Maka aksi jual aset lahan tersebut adalah pilihan paling realistis bagi Bakrie saat ini. Ketimbang harus terus ditagih pajak, lebih baik dilego.” Penjelasan atas analisa Vincent. "Prediksik saya mereka akan terus melego asetnya hingga utang-utangnya lunas, dan bisa melanjutkan pendanaan proyek-proyek yang belum terselesaikan. Nirwana Residence aset lahan di Bogor yang dikembangkan anak usahanya juga telah melakukan kerjasama dengan BUMN Wika Realty," Lanjut Vincent

The Covergence yang di jelaskan oleh Vincent adalah label baru yang digawang Grup Bakrie yang merupakan gedung telekomunikasi, media, dan teknologi (TMT) yang dirancang mengikuti perkembangan zaman yang dibesut oleh keluarga Bakrie dengan nama perusahaan Grup Brown melalui PT B Generasi Asia tersebut harus mengeluarkan dana sebesar 800 miliar, dan dibuka dengan penawaran perdana berkisar Rp 38,5 juta per meter persegi.

Penentangan muncul dari Wawan D Guratno, Direktur Bakrie Swasakti Utama, "Sepanjang 2014, penjualan kami masih positif," ulasan beliau atas paparan Vincent mengenai penjualan aset-aset di Rasuna Epicentrum yang dilansir justrus dikelola dengan baik.

Paparan Vincent terhadap itu "Banyak orang tidak memandang Sentra Timur Residence, maka dari itu berdampak dengan penjualan yang seret. Terlebih seperti sekarang ini saat ekonomi pasar sedang lesu. Harapan proyek ini dikarenakan dekat dengan Terminal Terpadu Modern Pulo Gebang, tapi itu malah akan menjadi bumerang,"

"Tidak ada gelombang baru pada pembelian yang dilakukan kalangan menengah, sebagai sasaran Sentra Timur Residence, dan berdampak pasar tidak percaya diri menitipkan uangnya berinvestasi di proyek-proyek Grup Bakrie. Kecuali mungkin mereka menggandeng perusahaan bonafid agar pasar percaya kembali. Tapi itu pun memerlukan waktu yang lama," Ujar Vincent yang membuktikan bahwa pandangan pasar terhadap Grup Bakrie masih alergi dan reputasi mereka pun masih dibalut citra negatif


Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita