249 Sabtu, 10 Januari 2015 | 12:29:48

Aturan BI Menjadi Kendala Bagi Pasar Apartemen

Aturan BI Menjadi Kendala Bagi Pasar Apartemennewpropertidata

Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan tentang loan to value (LTV) atau yang disebut rasio utang kebijakan tersebut dapat menghambat pemasaran di sektor properti. Berdasarkan surat edaran yang dikeluarkan Bank Indonesia, untuk rumah yang memiliki lahan seluas 70 m2 yang di beli melalui KPR akan dikenakan uang muka minimal 30 persen. Surat edaran tersebut juga melarang bank untuk membantu pembiayaan pembelian rumah ataupun apartemen yang bangunannya belum selesai.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia tentu saja sangat memberatkan para pengembang apartemen karena proyeknya dijual secara indent. Hal ini telah di alami oleh Apartemen 19 Avenue yang dikembangkan oleh Margahayu Land di jalan Daan Mogot Km. 19, di perbatasan Jakarta –Tangerang.

Menurut Direktur Utama Margahayu Land Hari Raharta Sudradjat, bahwa sejak awal tahun lalu Margahayu Land telah melakukan penjualan namun hasilnya kurang memuaskan.

Seharusnya proyek yang sudah setahun dipasarkan penjualan bisa mencapai diatas 50% akan tetapi karena adanya kendala politik dan aturan pembatasan kredit atau loan to value , hasil penjualannya hanya berkisar 40 %.

Hari Raharta Sudradjat, yang juga seorang Sekjen DPP Real Estat Indonesia (REI), menilai bahwa kewajiban untuk uang muka sebesar 30 persen sebagaimana yang telah diatur oleh Bank Indonesia sangat menyulitkan konsumen untuk membeli rumah. Hal ini dikarenakan kebanyakan masyarakat kita memiliki kemampuan untuk memebeli rumah dengan cara di cicil namun sulit untuk menyediakan uang muka yang besar, sebab itulah aturan yang di keluarkan Bank Indonesia mengenai Loan to Value (LTV) sangat memberatkan masyarakat.

Namun demikian, proyek 19 Avenue sendiri saat ini masih mencatatkan pertumbuhan. Hari Raharta Sudradjat, sangat optimis akan pembangunan proyek tersebut. Proyek yang berdiri diatas lahan seluar 2,5 ha  akan dibangun empat tower dan akan rampung dibangun  pada tahun 2016. Hari juga menambahkan bahwa taksiran untuk segmen menengah yang paling banyak dibutuhkan  harganya berkisar Rp 300 juta samapi Rp 500 juta. Jadi total untuk pembangunan proyek tersebut adalah sekitar Rp 250 miliar.

Sumber : Housingestate

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

Pencarian Berita