29 Selasa, 01 April 2014 | 10:33:49

Perkembangan Bekasi Kini

Perkembangan Bekasi Kini

Kota Bekasi, khususnya Bekasi Barat, secara perlahan dan pasti, bertransformasi menjadi destinasi investasi properti. Hal ini dibuktikan dengan pesatnya pembangunan segala jenis properti, mulai perumahan, pusat belanja, apartemen, hingga yang terbaru perkantoran. Nanda Widya, Presiden Direktur PT Metropolitan Land Tbk  mengatakan bahwa Bekasi punya potensi besar. Dia menilai, populasinya besar dan daya belinya tinggi. Apalagi, kalangan ekspatriat yang bekerja di kawasan industri Bekasi kini bertambah jumlahnya lantaran banyak perusahaan yang berekspansi.

"Pasar Bekasi sangat seksi. Kebutuhan hunian dan ruang perkantoran semakin menguat seiring pertumbuhan bisnis," ujar Nanda, Jumat (28/3/2014).

Selain itu, pergeseran pola konsumsi properti juga sudah terjadi di kawasan ini. Jika dua atau tiga tahun lalu harga properti (perumahan) terendah masih berkisar Rp 400 juta hingga Rp 700 juta, kini sudah menembus level Rp 1 miliar per unit.

Nanda mengaku, hal tersebut sangat dimungkinkan, mengingat harga lahan di Bekasi Barat, terutama di lokasi premium, sudah menyentuh dua digit, yaitu sekitar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per meter persegi. Sementara itu, harga lahan di dalam kawasan perumahan berkonsep real estate sekitar Rp 7 juta - Rp 10 juta per meter persegi.

"Terakhir kami menjual lahan dan properti di Summarecon Bekasi dengan patokan harga Rp 8,5 juta per meter persegi," timpal Johannes Mardjuk, Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbki.

Itulah alasan kuat yang mendasari para pengembang kemudian beralih membangun hunian vertikal. Jenis properti ini pun dibanderol dengan harga tak kalah fantastis. Setelah era rusunami Mutiara Bekasi dengan patokan harga mengikuti aturan pemerintah, yakni sekitar Rp 200 juta per unit, apartemen yang baru dirilis dua tahun terakhir ini dipasarkan sekitar Rp 15 juta per meter persegi.

Tak hanya itu, hadirnya M Gold Tower yang dikembangkan PT Metropolitan Land Tbk kini harga jualnya mencapai Rp 17,5 juta per meter persegi. Ini artinya, menurut Mardjuki, untuk mendapatkan satu unit seluas 33 m2 (tipe studio), pembeli harus merogoh kantong Rp 577, 5 juta.

Secara terpisah, Anhar Sudradjat, Direktur Metland mengatakan, meskipun harganya terbilang tinggi untuk ukuran Bekasi, unit-unit apartemen M Gold Tower sudah ludes terbeli.

"Sebanyak 140 unit terjual, sementara 30 unit sisanya akan kami kelola menjadi serviced residence yang diperuntukkan bagi pasar ekspatriat," ucap Anhar.

Ke depan, tambah Nanda, pihaknya akan bekerja sama dengan Marimo Co. Ltd., untuk membangun apartemen lagi di Bekasi. Saat ini pembicaraan serius sudah meningkat pada tahap pencarian lahan.

"Mereka sangat antusias dengan kota Bekasi. Pasalnya, Bekasi punya banyak kawasan industri yang diisi oleh perusahaan-perusahaan besar baik nasional maupun multinasional. Terlebih raksasa Jepang, seperti Toyota, memperluas basis usahanya di sini. Perusahaan lainnya asal Korea Selatan, dan Asia Tenggara, juga ikut membuka pabrik barunya di sini. Jadi, kami berencana mebangun hunian vertikal untuk para ekspatriat tersebut," tandas Nanda.

Menurut President Director PT Marimo Property, Yasuhiko Kawai, Bekasi punya potensi pasar luar biasa besar. Kebutuhan akan hunian kian meningkat saat perusahaan-perusahaan besar macam Toyota, Astra, Samsung, berekspansi dengan mengembangkan industri (pabrik) baru di kota ini.

"Para pekerja di perusahaan-perusahaan tersebut tentunya membutuhkan hunian. Jadi kami tertarik membangun hunian, khususnya apartemen di kota Bekasi," ujar Kawai.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membeli apartemen sebanyak 48 unit dan perkantoran M Gold Tower milik PT Metropolitan Land Tbk.

"Selanjutnya, kami akan bekerjasama dengan Metland guna mengembangkan properti serupa di Bekasi. Ada pun lahannya, masih kami cari di lokasi yang tepat. Kami berharap proyek perdana ini direalisasikan dalam waktu dekat," jelas Kawai.

Marimo Co.Ltd., merupakan pengembang dengan fokus bisnis pada pembangunan kondominium dan apartemen. Sebelumnya, mereka telah berpengalaman lebih dari 20 tahun dalam bisnis arsitektur dan desain.

Hingga saat ini, Marimo telah memproduksi ribuan unit kondominium di seluruh Jepang. Mereka membangun 7 kondominium di Hokaido, 15 kondominium di Tohoku, 69 proyek sejenis di Kanto, 60 gedung apartemen di Kinki, Tokai, 22 bangunan vertikal di Shikoku, 19 kondominium di Kyushu, dan 66 hunian jangkung di Chungko serta 44 bangunan di Koshinetsu, Hokiriku.

Kehadiran Marimo Co. Ltd., menambah panjang daftar pengembang Jepang di Indonesia. Gelombang pertama yang membawa arus kapital Negeri Sakura tersebut adalah Mitsui Corporation, JAL Hotels Corporation, Tokyu Land, Sumitomo, Kyoei Corporation, dan Shimizu Corporation. Selain itu, ada juga Marubeni, Kajima, Sojitz, dan Itochu sebagai generasi berikutnya.

Menariknya, perusahaan-perusahaan tersebut tak hanya berbisnis inti sebagai developer, melainkan juga kontraktor. Proyek-proyek yang mereka bangun berpengaruh besar terhadap konstelasi sektor industri properti di Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya berkontribusi positif dan mendorong pertumbuhan perekonomian Nasional, seperti kawasan industri.

Jenis-jenis properti tersebut ditempati perusahaan-perusahaan Jepang yang membangun pabrik sekaligus berproduksi di sini. Sebagian besar bergerak di bidang industri otomotif, makanan, kimia, material bangunan dan lain sebagainya yang padat modal dan tenaga kerja.


Editor    : Latief
Sumber : Kompas

 







📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita