202 Selasa, 01 April 2014 | 10:26:34

Tinggi, Minat Ekspatriat akan Properti di Indonesia

Tinggi, Minat Ekspatriat akan Properti di Indonesia

Hingga saat ini, meskipun kepemilikan asing atas properti belum juga tuntas diatur dalam sebuah regulasi, minat ekspatriat memiliki properti di Indonesia masih sangat kuat. Pada 2013 lalu, jumlah ekspatriat yang bekerja di Jababeka saja misalnya, sudah sebanyak 10.000 orang. Mereka berasal dari 300 negara. Jika digabungkan dengan ekspatriat di kawasan industri sejenis seperti MM2100, East Jakarta Industrial Park, atau Greenland International Industrial Park dan lainnya, jumlahnya tentu berkali-kali lipat.

Sayangnya, ketersediaan properti yang representatif dan dapat mengkomodasi kebutuhan mereka, masih terbatas. Untuk itulah, di lahan seluas 16 hektardi kawasan Cikarang, Jawa Barat, PT Jababeka Tbk dan PT Plaza Indonesia Realty Tbk membangun proyek multiguna.

Kawasan "segitiga emas Tangerang", yaitu Lippo Karawaci, Summarecon, serta Paramount Serpong tetap menjadi incaran pengembang properti untuk mengembangkan apartemen dan hotel. Potensi bisnis apartemen dan hotel sangat tinggi untuk memenuhi kuatnya permintaan dari kalangan ekspatriat, terutama asal Jepang dan Korea Selatan, serta Eropa.

Salah satu pengembang yang tertarik masuk ke ceruk apartemen dan hotel tersebut adalah PT Mahakarya Agung Putera (MAP). Sukses meluncurkan apartemen Grand Eschol Residence beberapa waktu lalu, MAP bekerjasama dengan Archipelago International membangun kondotel Aston Karawaci City Hotel. Kondotel berkelas setara hotel bintang empat ini dirancang di lahan seluas 3.200 meter persegi.

"Ini keuntungan yang absolut, karena di belakang lahan kami pun ada beberapa lahan seluas 100 hektar sudah siap dibangun pengembang lain demi menangkap potensi pasar ekspatriat yang dominan di sini. Banyak pemain besar, yang karena mulai kehabisan lahan, lari ke arah pasar Kemis. Ini tentu keuntungan buat kami," ujar Iwan Kumara, General Manager MAP,  pada jumpa pers di Jakarta, Sabtu (29/3/2014).

Dengan menggelontorkan investasi Rp 300 miliar di luar biaya lahan, MAP berani bertarung di antara para pengembang besar sebelumnya seperti Lippo Karawaci, Summarecon, atau Paramount Serpong. Apalagi, MAP berani menggandeng Archipelago International yang merupakan salah satu operator hotel dengan portofolio lebih dari 75 hotel dan 12.000 kamar di Indonesia. Beberapa hotel dioperasikan Archipelago International itu misalnya Grand Aston, Aston, Aston City, Quest, Favehotel, NEO, dan banyak lagi.

"Kami ingin jadikan proyek ini sebagai kondotel yang punya nilai jual tinggi berkat akses dan nilai jualnya. Contohnya sebuah apartemen yang dibuat oleh salah satu pengembang di kawasan ini. Pada bulan April 2011 lalu apartemen itu mereka jual seharga Rp 300 juta. Tahun ini, harga apartemen itu sudah Rp 700 juta. Jadi, potensi investasi inilah yang ingin kami tonjolkan di Aston Karawaci. Nanti, saat sudah topping off, saya yakin harganya bisa 50 persen, bahkan 100 persen," ujar Iwan.

Memang, kuatnya permintaan yang berasal dari ekspatriat, terutama Negara Jepang dan Korea Selatan, juga pernah diamini oleh Toyota Group. Mereka bahkan telah lebih dulu meneken PPJB dengan Lippo Karawaci atas lahan seluas 7.000 meter persegi di Cikarang guna didirikan apartemen servis untuk orang Jepang.

Selain ekspatriat asal Jepang dan Korea, pasar asing dengan potensi sama besarnya adalah ekspatriat China. Hal ini diungkapkan Jopy Rusli, Direktur Lippo Karawaci . Ia mengatakan, para pekerja asal China mulai membanjiri Indonesia pasca semakin tumbuhnya investasi China di negara ini. Beberapa perusahaan China membuka pabrik di Cikarang dengan membawa profesionalnya dalam jumlah cukup signifikan.

"Ini keuntungan yang absolut, karena di belakang lahan kami pun ada beberapa lahan seluas 100 hektar sudah siap dibangun pengembang lain demi menangkap potensi pasar ekspatriat yang dominan di sini. Banyak pemain besar, yang karena mulai kehabisan lahan, lari ke arah pasar Kemis. Ini tentu keuntungan buat kami," tambah Iwan.


Menanggapi hal itu, Norbert Vas, Vice President Sales & Marketing PT Archipelago International, mengatakan bahwa potensi okupansi hotel di kawasan segitiga emas Tangerang ini cukup menjanjikan. Berdasarkan riset Archipelago lewat jaringan hotelnya, perbedaan okupansi hotel di kawasan ini nyaris tak jauh berbeda dengan Jakarta.

"Di Semarang itu okupansinya 68 persen sampai 70 persen, sementara di Jakarta, terutama dari jaringan kami, yaitu Aston Ancol, mencapai 88 persen. Sementara di Serpong kami yakin bisa menembus 85 persen sampai 90 persen," ujar Vas.

Return of Investment
Untuk tahap pertama penjualan, MAP menargetkan penjualan 100 unit dari 252 unit yang tersedia di Aston Karawaci City Hotel hingga tahap penjualan kedua nanti. Untuk mencapai target itu, Teddy Widjaja, Direktur Accounting dan Finance MAP, menawarkan tiga skema pembiayaan menarik.

"Pertama dengan KPA, tapi itu kan biasa. Nah, yang kedua dan ketiga ini paling menarik. Pertama, pembeli bisa membayar dengan skema cicilan 24 kali tanpa bunga dan skema uang muka 50 persen. Konsumen bisa bayar 50 persen dulu, nanti kalau unit sudah jadi dibayar sisanya," kata Teddy.

Dengan rencana peletakkan batu pertama pada Mei 2014, MAP menargetkan tahap penutupan atap proyek ini pada Mei 2016. Ada lima tipe unit ditawarkan di kondotel ini, yaitu superior, superior hook, superior plus, deluxe, serta junior Suite.

Adapun harga yang ditawarkan untuk unit-unit itu bervariasi. Untuk skema pembayaran tunai berlaku mulai Rp 577.456.790 hingga Rp 1.106.924.981, sedangkan untuk cicilan 24 kali ditawarkan sebesar Rp 594.780.503 hingga Rp 1.102.022.747, dan Rp 649.638.897 sampai Rp 1.203.665.617 untuk pembayaran dengan skema uang muka 50 persen.

"Return of Investment-nya 16 persen untuk 2 tahun pertama digaransi dan bisa dibayar dimuka," tambah Teddy.

Sumber : Kompas



📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita