214 Selasa, 11 Maret 2014 | 10:27:19

5 Pengembang Terbesar Indonesia

5 Pengembang Terbesar Indonesia

Tahun 2014, sektor properti Indonesia memang tengah melambat. Namun, hal ini tidak menghalangi beberapa pengembang kakap yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, untuk menyelesaikan proyek yang sudah dipasarkan sejak tahun lalu. Sehingga nilai kapitalisasi pasar mereka terus bergerak dinamis. Panangian Simanungkalit, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia,  mengatakan para pengembang besar tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Mereka tidak akan menunda (postponed) proyek baru atau pun vakum sementara.

"Bagi mereka, menunda proyek hanya akan melewatkan kesempatan bagus. Meskipun harus konsolidasi, tetap saja peluang tahun 2014 sebagai masih memungkinkan untuk meraup keuntungan. Jadi, mereka akan tetap menyelesaikan proyek lama dan melansir proyek baru tahun ini," kata Panangian, pekan lalu.

Pengembang yang berani merilis proyek tahun ini adalah pemilik kapitalisasi pasar terbesar. Satu di antaranya adalah PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR). LPKR percaya diri menggarap Embarcadero Park di Bintaro, Tangerang Selatan, di atas lahan seluas 2,47 hektar. Nilai proyek ini diperkirakan mencapai Rp 2,5 triliun.

Selain LPKR, terdapat empat pengembang terbesar lainnya yang terus melanjutkan proyeknya. Berikut daftar lima pengembang terbesar menurut kapitalisasi pasar  per 10 Maret 2014:

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menempati pemuncak pengembang terbesar di Indonesia dengan catatan kapitalisasi pasar senilai Rp 28,4 triliun. Mereka masih mengerjakan klaster-klaster perumahan baik di BSD City, Kota Wisata, maupun properti komersial lainnya seperti AEON Mall, dan Indonesia International Expo seluas 150.000 meter persegi.

Menyusul BSDE, di tempat kedua adalah LPKR. Pengembang yang berbasis di Karawaci, Tangerang, ini membukukan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 24,1 triliun. Selain telah merilis Embarcadero Park, LPKR tengah mengerjakan konstruksi St Moritz Penthouse and Residences Jakarta, serta proyek sejenis di luar kota, yakni St. Moritz Makassar, dan sejumlah properti komersial lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) berada di peringkat ketiga terbesar. Imperium bisnis properti yang dirintis Alexander Tedja dan keluarga ini berhasil menorehkan nilai kapitalisasi sebanyak Rp 17,4 triliun. Mereka kini tengah berkonsentrasi pada pengembangan megapropyek Tunjungan City, serta beberapa properti komersial di East Coast City, dan di Pakuwon City di Surabaya, Jawa Timur.

Posisi berikutinya ditempati PT Ciputra Development Tbk (CTRA). Perusahaan pengembang milik begawan properti Ciputra ini mencatat nilai kapitalisasi sebesar Rp 15,9 triliun. Menariknya, CTRA kerap bertukar peringkat dengan PWON. Tahun lalu, CTRA berada di posisi ketiga.

Tahun ini CTRA melepas proyek baru di enam kota di seluruh Indonesia. Enam kota lapis kedua dan ketiga tersebut adalah Samarinda (Kalimantan Timur), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat), Pekanbaru (Riau), Gorontalo, dan Palu (Sulawesi Tengah).

Proyek baru tersebut seluruhnya merupakan perumahan dengan luas area sekitar 40 hektar hingga 400 hektar. Pembangunan akan dimulai pada kuartal kedua tahun ini.

"Kami telah menyiapkan dana investasi untuk memulai pembangunan infrastruktur dan konstruksi awal perumahan sekitar Rp 50 miliar hingga Rp 100 miliar per proyek," imbuh Tulus Santoso, Direktur PT Ciputra Development Tbk,  pekan lalu.

Sementara kapitalisasi pasar PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencapai Rp 15,3 triliun. Tahun ini, mereka akan menggarap bank lahan seluas 1,2 hektar yang sudah mereka miliki sejak 1995 dan berada persis di sebelah Apartemen Slipi.

Johannes Mardjuki, Direktur Utama Summarecon Agung, mengatakan, Slipi merupakan calon pusat bisnis baru (secondary CBD) Jakarta. Oleh karena itu, pihaknya akan memanfaatkan lahan tersebut sebagai pusat pendapatan berulang (recurring income) sekaligus pendapatan pengembangan (development income).

"Saat ini tengah memasuki finalisasi desain. Proyek ini akan terdiri atas dua tahap pengembangan. Tahap I merupakan gedung hibrid setinggi lebih dari 40 lantai yang menghimpun perkantoran sewa dan hotel bintang 4," kata Johannes, Selasa (11/3/2014).

Sumber : Kompas


📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita