673 Senin, 24 Februari 2014 | 11:29:13

7 Proyek Baru di Gatot Subroto

7 Proyek Baru di Gatot Subroto

Kawasan Gatot Subroto, Jakarta, memang masih kalah pamor dibandingkan dengan kawasan Thamrin, Sudirman, atau koridor Prof Dr Satrio. Bahkan, nama terakhir ini justru mendapat legitimasi tambahan sebagai "Satrio International Shopping and Tourism Belt" atau sabuk wisata dan belanja internasional. Padahal, koridor Gatot Subroto bersebelahan langsung dengan CBD Sudirman. Seperti diketahui, CBD Sudirman merupakan "sarang" perkantoran perusahaan nasional dan multinasional terkemuka. Selain itu, di sini juga terdapat pusat belanja mewah dengan beragam merek global yang hanya mengakomodasi kebutuhan kalangan atas.

Demikian halnya dengan CBD Thamrin dan CBD Kuningan. Keduanya punya keunggulan sebagai destinasi utama bisnis dan investasi sektor properti. Tak mengherankan bila gedung-gedung perkantoran, sebagai "markas" sektor jasa keuangan, perbankan, asuransi, teknologi, dan tambang, banyak terdapat di sini.

Lantas, mengapa Gatot Subroto seolah terlupakan, dan baru menggeliat dalam dua tahun terakhir?

Senior Technical Adviser for Residential Project Marketing Jones Lang LaSalle Indonesia, Luke Rowe, menjelaskan bahwa Gatot Subroto sebenarnya juga merupakan bagian dari konsep pengembangan Jakarta Golden Triangle (Segi Tiga Emas Jakarta) yang mencakup kawasan Thamrin-Sudirman-Kuningan.

"Namun, saat properti sedang booming, para pengembang dan investor justru lebih fokus ke ketiga kawasan tersebut. Kini ketika laju pertumbuhan pasar properti melambat, semua berpaling ke Gatot Subroto sebagai koridor yang menawarkan masa depan investasi menarik. Selain Gatot Subroto, alternatif lainnya adalah S Parman, MT Haryono, dan Simatupang," papar Luke.

Luke memprediksi, koridor Gatot Subroto bisa menjadi incaran karena harga lahannya masih terhitung kompetitif yakni sekitar Rp 35 juta hingga Rp 45 juta per meter persegi. Sementara harga lahan di kawasan Thamrin, Sudirman, dan Kuningan sudah menyentuh level Rp 60 juta hingga Rp 100 juta per meter persegi.

"Dengan harga setinggi itu, dan kondisi pasar sedang melambat, menjadi kurang feasible membangun di kawasan-kawasan paling populer tersebut. Maka Gatot Subroto bisa menjadi pilihan terbaik," ujarnya.

Mencermati kondisi aktual, saat ini terdapat tujuh proyek skala besar yang tengah dikembangkan. Dari ketujuh proyek tersebut, tiga di antaranya merupakan pengembangan multifungsi (mixed use development).

Tujuh proyek tersebut adalah Mangkuluhur City yang dikembangkan PT Kencana Graha Optima. Menempati lahan seluas 4 hektar, Mangkuluhur City terdiri atas dua gedung apartemen, satu gedung hotel, dan dua gedung perkantoran. Guna merealisasikan proyek ini, PT Kencana Graha Optima harus merogoh kocek senilai Rp 1,850 triliun.

Proyek berikutnya adalah gedung perkantoran Telkom Landmark Tower milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Telkom Landmark Tower terdiri atas tiga gedung perkantoran. Dua di antaranya, masing-masing setinggi 20 lantai dan 48 lantai, merupakan gedung baru seluas 115.000 m2 dengan dana yang diinvestasikan senilai Rp 1,4 triliun sementara satu gedung lagi merupakan bangunan eksisting yang akan direnovasi. Kedua gedung tersebut akan beroperasi secara bertahap mulai 2015 mendatang.

Direktur Utama PT Telkom Landmark Tower, Bayu S Utomo, mengatakan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk berikut anak dan cucu usaha akan menempati 75 persen ruang perkantoran Telkom Landmark Tower. Sisa 15 persen ruang lainnya akan dipasarkan untuk umum pada kuartal III 2014.

Menyusul kemudian Wisma Mulia 2 yang dikembangkan di area perkantoran Mulia Office Park milik Mulialand Group. Bangunan Wisma Mulia 2 seluas 80.000 m2. Berikutnya Rajawali Group mengembangkan The St Regis Jakarta dengan cakupan fungsi hotel, kantor, dan ruang ritel seluas total 141.000 m2, dengan nilai lebih dari 400 juta dollar AS atau setara Rp 4,6 triliun.

Kemudian Centennial Tower garapan PT Citratama Inti Persada. Luas bangunan proyek ini mencapai 148.300 m2 dengan area sewa 100.000 m2. Berikutnya The Tower setinggi 50 lantai yang dibesut PT alam Sutera Realty Tbk, dengan nilai lebih dari Rp 1,5 triliun.

Terakhir adalah Gayanti City. PT Buana Pacifik International akan membangun dua menara apartemen berkonsep loft dan satu menara perkantoran di atas lahan seluas 1,5 hektar. dengan nilai lebih dari Rp 1,1 triliun.

Menariknya, harga-harga perkantoran (sewa dan jual) dan apartemen di koridor ini sangat beragam, mulai dari kelas menengah hingga atas. Untuk perkantoran strata ditawarkan dengan harga terendah Rp 30 juta per meter persegi, dan apartemennya mulai Rp 35 juta per meter persegi.

Sedangkan untuk fungsi hotel, mayoritas didominasi oleh kelas bintang lima. Sebut saja The St Regis Jakarta dan The Regent Hotel di area Mangkuluhur City.

Bila ketujuh proyek tersebut rampung, tidak hanya mengubah kaki langit kawasan, tetapi juga Jakarta keseluruhan. Pasalnya, koleksi pencakar langit Jakarta di koridor ini bakal bertambah menjadi 16 gedung hingga 2016 mendatang.

Sumber : Kompas





📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita