318 Selasa, 08 Oktober 2013 | 10:22:39

Inilah, Tiga Keluarga Penentu Wajah Indonesia

Inilah, Tiga Keluarga Penentu Wajah Indonesia

Ciputra, Eka Tjipta Widjaja, dan Mochtar Riady merupakan tiga klan keluarga yang menguasai sektor properti sekaligus berkontribusi mengubah wajah Indonesia. Mereka, khususnya Ciputra, berkiprah sejak lebih dari tiga dekade silam. Portofolio kelompok usaha yang mewujud dalam imperium Ciputra Group, Sinarmas Land Group, dan Lippo Group, tersebar di seluruh Indonesia. Tak hanya di kota-kota besar, atau ibukota provinsi, melainkan juga kota kedua dan kabupaten. Mereka membangun perumahan, pusat belanja, ruko, rukan, rumah sakit, apartemen, hotel, dan kawasan industri.

Menurut CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono, ketiga dinasti tersebut merupakan pemasok properti terbesar yang aktif sejak tiga puluh tahun lalu hingga sekarang. Karya mereka memenuhi kebutuhan kelas bawah, menengah dan menengah atas.

"Boleh disebut, mereka adalah supply driven yang menentukan perkembangan dan pertumbuhan sektor properti Indonesia di masa lalu, sekarang mau pun akan datang," ujar Hendra kepada Kompas.com, Sabtu (5/10/2013).

Mengapa tiga klan tersebut pantas didapuk sebagai penentu wajah properti Indonesia? Karena ketiganya telah menghasilkan generasi muda yang juga memiliki kiprah serupa. Tongkat estafet Ciputra diteruskan oleh generasi keduanya, yakni Candra dan Cakra Ciputra, Rina Sastrawinata, dan Junita Ciputra. Bahkan, generasi ketiga, telah dilibatkan sejak dini untuk mengelola properti-properti mereka baik di Jakarta maupun di daerah.

Sementara kepemimpinan Eka Tjipta Widjaja beralih kepada Michael Widjaja. Setelah melalui peralihan suksesi dari Muktar Widjaja. Hal serupa terjadi pada klan Riady. Setelah era Mochtar Riady, tampuk "kekuasaan" di sektor properti kini berada di tangah Michael Riady.

Selain itu, mereka juga mampu mempertahankan kinerja keuangannya karena tak pernah henti berproduksi. Terlebih, dalam tiga tahun terakhir, saat sektor properti booming, melalui tentakel-tentakelnya, ekspansi bisnis mereka lebih agresif.

Berdasarkan kinerja pendapatan dan laba bersih selama semester I 2013, Sinarmas Land mencuat sebagai yang terbesar. Mereka berhasil membukukan laba bersih senilai Rp 1,818 triliun yang berasal dari PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) Rp 1,53 triliun dan PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) Rp 288, 7 miliar.

Laba tersebut diperoleh berkat performa pendapatan yang bertumbuh menjadi Rp 3,66 triliun. Angka ini dipasok oleh BSDE sebesar Rp 2,9 triliun dan DUTI Rp 760 miliar.

Ciputra Group menempati peringkat kedua dengan laba bersih sebesar Rp 884 miliar dari ketiga anak usahanya yakni PT Ciputra Surya Tbk (CTRA) Rp 205 miliar, PT Ciputra Development Tbk Rp 428,4 miliar dan PT Ciputra Property Tbk (CTRP) Rp 251,2 miliar. Mereka juga berkontribusi terhadap total pendapatan menjadi Rp 3,8 triliun, masing-masing CTRA menyumbang Rp 2,48 triliun, CTRP Rp 844,6 miliar, dan CTRS Rp 544,4 miliar.

Sementara Lippo Group membukukan laba bersih sejumlah Rp 828 miliar yang didapat dari PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) sebanyak Rp 546 miliar, dan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) dengan angka Rp 282,3 miliar. Andil terhadap pertambahan pendapatan pun bertumbuh sebesar Rp 3,06 triliun dari LPKR, dan Rp 556,7 miliar dari LPCK, sehingga mencapai total Rp 3,62 triliun.

Proyek dalam konstruksi
Baik Ciputra Group, Sinarmas Land Group, dan Lippo Group, kini tengah mengerjakan pembangunan proyek-proyek besar mereka. Terutama di Jakarta. Ciputra Group melalui CTRP tengah membesut megaproyek Ciputra World Jakarta di koridor Satrio International Shopping and Tourism Belt, Jakarta Selatan.

Sedangkan BSDE sebagai pentolan Sinarmas Land berupaya menyelesaikan dan menggarap proyek raksasa Indonesia International Expo dan AEON Mall di BSD City, Serpong, Banten.

LPKR juga melakukan hal yang sama terhadap signature project mereka yakni St Moritz Penthouse and Residences di Puri Indah, Jakarta Barat dan Holland Village di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Pembangunan proyek-proyek tersebut, menjadikan catatan market capitalization mereka berubah dinamis. Dari data kapitalisasi pasar Bloomberg per 4 Oktober 2013, Sinarmas Land berada di posisi teratas dengan angka Rp 34 triliun yang berasal dari BSDE sebesar Rp 25,7 triliun dan DUTI (Rp 8,3 triliun).

Disusul Lippo Karawaci dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 28,5 triliun, dari andil LPKR (Rp 24,9 triliun) dan LPCK (Rp 3,6 triliun).

Ciputra berada di peringkat ketiga dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 23,2 triliun yang disumbang dari CTRA sebesar Rp 14,1 triliun, CTRP (Rp 4,9 triliun) dan CTRS senilai Rp 4,2 triliun.

Sumber : Kompas

📄 View Comment

Tulis Komentar

4 Komentar

  1. image
    Ignasi Cleto Agustus 29, 12:53

    Usu inani perfecto quaestio in, id usu paulo eruditi salutandi. In eros prompta dolores nec, ut pro causae conclusionemque. In pro elit mundi dicunt. No odio diam interpretaris pri.

    Tanggapi Komentar
Lihat semua komentar

Tulis Komentar

Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat menulis komentar.

    Berita Terkait

    Tidak ada artikel terkait

Pencarian Berita